Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok warok dan gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat reog dipertunjukkan. Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.
Sejarah
Pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok, namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.

Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa Barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya. Populernya Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer diantara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu.

Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan 'kerasukan' saat mementaskan tariannya.

Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku.

Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.

Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar,

Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya.

Adegan terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.
Sumber : wikipedia.org
Sejarah
Pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok, namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.
Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa Barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya. Populernya Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer diantara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu.
Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan 'kerasukan' saat mementaskan tariannya.
Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku.
Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.

Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar,
Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya.
Adegan terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.
Sumber : wikipedia.org
Album Reog Ponorogo di UIN Malang
Revolusi Pendidikan telah tiba!
Dunia akan menjadi lebih cerdas dengan membangun dan saling berbagi berbagai pemikiran bersama-sama. Kolaborasi secara Internasional dapat ditingkatkan dan menjadi sesuatu yang tidak mustahil untuk dilakukan. Melalui internet, dunia berubah melalui ide-ide yang datang tiap detiknya
Edu animate adalah jenis pendidikan baru—pendidikan jenis ini dapat Anda lakukan sendiri dengan cara melihat dan mendengarkan. Media pendidikan telah menemukan tanah yang subur di dunia internet dan media pendidikan ini pengaruhnya berkembang dengan cepat. Pendidikan tak lagi terikat pada segelintir “penjaga.” Saat ini, informasi dengan bebas dapat menemukan jalan sehingga dapat menjangkau bagian-bagian yang paling terpencil pun di planet ini.
Di EDU animate, kami memiliki tujuan untuk menyediakan sumber pembelajaran serta bisa didapat dengan cara GRATIS. Kami berharap video-video ini dapat tumbuh karya yang dapat membantu berbagi pemikiran serta dapat menyediakan sumber pembelajaran yang gratis dan mudah untuk dipahami, serta dapat menciptakan percikan-percikan perbincangan di seluruh dunia.
- Tim EDU animate
Dunia akan menjadi lebih cerdas dengan membangun dan saling berbagi berbagai pemikiran bersama-sama. Kolaborasi secara Internasional dapat ditingkatkan dan menjadi sesuatu yang tidak mustahil untuk dilakukan. Melalui internet, dunia berubah melalui ide-ide yang datang tiap detiknya
Edu animate adalah jenis pendidikan baru—pendidikan jenis ini dapat Anda lakukan sendiri dengan cara melihat dan mendengarkan. Media pendidikan telah menemukan tanah yang subur di dunia internet dan media pendidikan ini pengaruhnya berkembang dengan cepat. Pendidikan tak lagi terikat pada segelintir “penjaga.” Saat ini, informasi dengan bebas dapat menemukan jalan sehingga dapat menjangkau bagian-bagian yang paling terpencil pun di planet ini.
Di EDU animate, kami memiliki tujuan untuk menyediakan sumber pembelajaran serta bisa didapat dengan cara GRATIS. Kami berharap video-video ini dapat tumbuh karya yang dapat membantu berbagi pemikiran serta dapat menyediakan sumber pembelajaran yang gratis dan mudah untuk dipahami, serta dapat menciptakan percikan-percikan perbincangan di seluruh dunia.
- Tim EDU animate
Sejarah Indonesia - EDU animate
Judul buku: Gado-Gado Kerikil Jokowi
Penerbit: Galang Press
Penulis: Anas Syahirul A, dkk
Tebal: 196 halaman.
Siapa sebenarnya Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi? Tiba-tiba banyak yang bertanya-tanya sejak dia tempo hari bersama pasangannya Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama memenangi putaran pertama Pilkada DKI. Namanya begitu harum sejak menjabat sebagai walikota di kota kecil Jawa Tengah, yaitu Solo.
Dia akan kembali bertarung dengan sosok yang dikenal sakti mandraguna bernama Fauzi Bowo alias Foke di putaran II Pilgub untuk bisa menduduki kursi jabatan Gubernur di Ibukota Negara. Tak sedikit yang sinis, namun banyak juga yang menggadang-gadang anak desa ini memenangi kembali pemungutan suara, dan akhirnya memimpin Jakarta.
Jokowi memang beda. Dengan tangan dinginnya, dia menyulap Solo yang berantakan menjadi jauh lebih rapi dan tertata, baik dari segi pembangunan fisik maupun birokrasi. Kesehatan masyarakat terjamin dengan asuransi yang menjangkau semua penduduk ber-KTP Solo. Dan masih banyak programnya yang inspiratif, yang oleh banyak pihak diharapkan bisa diterapkan di Ibukota, bila memang takdir menuliskan dia yang nantinya akan memenangi pemungutan suara.
Selama ini begitu banyak tulisan baik di media cetak maupun online tentang kiprah Jokowi selama menjabat walikota. Dari berbagai programnya yang fenomenal, penghargaan demi penghargaan yang diraihnya dan sebagainya. Namun belum banyak yang mengulas tentang kisah hidupnya yang penuh liku sebelum memangku amanah sebagai pejabat publik. Maka buku “Gado-Gado Kerikil Jokowi” ini seakan menjadi jawaban bagi yang ingin tahu siapa sebenarnya seorang Jokowi yang menjadi kuda hitam di putaran pertama Pilgub DKI lalu.
Buku ini sebenarnya merupakan kumpulan tulisan yang pernah dipublikasikan melalui media massa cetak lokal di Solo, yaitu Harian Joglosemar, yang diperdalam lagi. Maka penulisnya pun sejumlah wartawan koran tersebut. Anas Syahirul A adalah pemimpin redaksi koran tersebut. Dia bersama Heru Ismantoro, Ari Kristyono, Suhamdani, Muhaimin, Dini dan Marwantoro Subagyo adalah orang-orang dibalik buku ini.
Mengapa berjudul “Gado-Gado Kerikil”? Dalam bedah buku di TB Gramedia Solo, Kamis (9/8/2012) terungkap bahwa itu pilihan judul dari penerbit. Gado-gado yang biasanya terdiri dari aneka sayuran, kali ini berisi kerikil, sebagai representasi kehidupan seorang Jokowi yang keras dan penuh liku yang menjadi santapan Jokowi muda sehari-harinya.
Jokowi tumbuh di tengah kebersahajaan. Keluarganya hidup di bantaran kali dan pernah digusur pemerintah. Ayahnya adalah seorang sopir, lalu berganti-ganti pekerjaan sebelum kemudian menjadi tukang kayu. Jokowi yang bercita-cita tinggi mengikuti jejak sang ayah, dengan kuliah di Jurusan Teknik Perkayuan Universitas Gadjah Mada. Dari situ dia memulai bisnisnya di bidang permebelan. Dari menyewa rumah bedeng sebagai kantor hingga berhasil menjangkau pasar ekspor.
Jokowi tak pernah bermimpi menerjuni dunia politik dan menjadi pejabat. “Sampai sekarang saya masih merasa bukan sebagai politisi,” ujar dia saat acara bedah buku.
Sementara Anas Syahirul menyatakan, melalui buku ini dia dan kawan-kawan penulis lainnya ingin mempersembahkan gambaran sosok Jokowi dari sisi perjalanan hidupnya yang keras dan mengusung semangat perubahan, bukan politis. “Jokowi adalah sosok yang penuh dengan integritas. Integritas itu telah dimilikinya jauh sebelum dia menjabat sebagai walikota,” ujar Anas.
Anas berharap, buku ini menjadi inspirasi bagi siapapun yang membacanya, dengan meniru sepak terjang Jokowi yang membuktikan bahwa wong cilik bisa mengubah nasib dengan cara bekerja keras. Buku ini diharapkan menularkan optimisme yang dimiliki Jokowi, bahwa setiap orang bisa mewujudkan mimpi dan menakhlukkan tantangan yang menghimpit mimpinya, sekali lagi dengan: kerja keras.
Saya sendiri berpendapat, buku ini perlu direvisi sampulnya. Sebab pada ilustrasi Jokowi membisikkan sesuatu kepada nenek tua, ada gambar tangan yang seharusnya tak perlu ada di sampul itu. Namun saya jamin, buku ini layak dikoleksi siapapun yang ingin lebih dalam mengenal sosok: Jokowi.
source: http://media.kompasiana.com/buku/2012/08/09/kerasnya-gado-gado-kerikil-santapan-jokowi-sehari-hari-478127.html
Penerbit: Galang Press
Penulis: Anas Syahirul A, dkk
Tebal: 196 halaman.
Siapa sebenarnya Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi? Tiba-tiba banyak yang bertanya-tanya sejak dia tempo hari bersama pasangannya Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama memenangi putaran pertama Pilkada DKI. Namanya begitu harum sejak menjabat sebagai walikota di kota kecil Jawa Tengah, yaitu Solo.
Dia akan kembali bertarung dengan sosok yang dikenal sakti mandraguna bernama Fauzi Bowo alias Foke di putaran II Pilgub untuk bisa menduduki kursi jabatan Gubernur di Ibukota Negara. Tak sedikit yang sinis, namun banyak juga yang menggadang-gadang anak desa ini memenangi kembali pemungutan suara, dan akhirnya memimpin Jakarta.
Jokowi memang beda. Dengan tangan dinginnya, dia menyulap Solo yang berantakan menjadi jauh lebih rapi dan tertata, baik dari segi pembangunan fisik maupun birokrasi. Kesehatan masyarakat terjamin dengan asuransi yang menjangkau semua penduduk ber-KTP Solo. Dan masih banyak programnya yang inspiratif, yang oleh banyak pihak diharapkan bisa diterapkan di Ibukota, bila memang takdir menuliskan dia yang nantinya akan memenangi pemungutan suara.
Selama ini begitu banyak tulisan baik di media cetak maupun online tentang kiprah Jokowi selama menjabat walikota. Dari berbagai programnya yang fenomenal, penghargaan demi penghargaan yang diraihnya dan sebagainya. Namun belum banyak yang mengulas tentang kisah hidupnya yang penuh liku sebelum memangku amanah sebagai pejabat publik. Maka buku “Gado-Gado Kerikil Jokowi” ini seakan menjadi jawaban bagi yang ingin tahu siapa sebenarnya seorang Jokowi yang menjadi kuda hitam di putaran pertama Pilgub DKI lalu.
Buku ini sebenarnya merupakan kumpulan tulisan yang pernah dipublikasikan melalui media massa cetak lokal di Solo, yaitu Harian Joglosemar, yang diperdalam lagi. Maka penulisnya pun sejumlah wartawan koran tersebut. Anas Syahirul A adalah pemimpin redaksi koran tersebut. Dia bersama Heru Ismantoro, Ari Kristyono, Suhamdani, Muhaimin, Dini dan Marwantoro Subagyo adalah orang-orang dibalik buku ini.
Mengapa berjudul “Gado-Gado Kerikil”? Dalam bedah buku di TB Gramedia Solo, Kamis (9/8/2012) terungkap bahwa itu pilihan judul dari penerbit. Gado-gado yang biasanya terdiri dari aneka sayuran, kali ini berisi kerikil, sebagai representasi kehidupan seorang Jokowi yang keras dan penuh liku yang menjadi santapan Jokowi muda sehari-harinya.
Jokowi tumbuh di tengah kebersahajaan. Keluarganya hidup di bantaran kali dan pernah digusur pemerintah. Ayahnya adalah seorang sopir, lalu berganti-ganti pekerjaan sebelum kemudian menjadi tukang kayu. Jokowi yang bercita-cita tinggi mengikuti jejak sang ayah, dengan kuliah di Jurusan Teknik Perkayuan Universitas Gadjah Mada. Dari situ dia memulai bisnisnya di bidang permebelan. Dari menyewa rumah bedeng sebagai kantor hingga berhasil menjangkau pasar ekspor.
Jokowi tak pernah bermimpi menerjuni dunia politik dan menjadi pejabat. “Sampai sekarang saya masih merasa bukan sebagai politisi,” ujar dia saat acara bedah buku.
Sementara Anas Syahirul menyatakan, melalui buku ini dia dan kawan-kawan penulis lainnya ingin mempersembahkan gambaran sosok Jokowi dari sisi perjalanan hidupnya yang keras dan mengusung semangat perubahan, bukan politis. “Jokowi adalah sosok yang penuh dengan integritas. Integritas itu telah dimilikinya jauh sebelum dia menjabat sebagai walikota,” ujar Anas.
Anas berharap, buku ini menjadi inspirasi bagi siapapun yang membacanya, dengan meniru sepak terjang Jokowi yang membuktikan bahwa wong cilik bisa mengubah nasib dengan cara bekerja keras. Buku ini diharapkan menularkan optimisme yang dimiliki Jokowi, bahwa setiap orang bisa mewujudkan mimpi dan menakhlukkan tantangan yang menghimpit mimpinya, sekali lagi dengan: kerja keras.
Saya sendiri berpendapat, buku ini perlu direvisi sampulnya. Sebab pada ilustrasi Jokowi membisikkan sesuatu kepada nenek tua, ada gambar tangan yang seharusnya tak perlu ada di sampul itu. Namun saya jamin, buku ini layak dikoleksi siapapun yang ingin lebih dalam mengenal sosok: Jokowi.
source: http://media.kompasiana.com/buku/2012/08/09/kerasnya-gado-gado-kerikil-santapan-jokowi-sehari-hari-478127.html
Gado-Gado Kerikil Jokowi
Kota Solo saat ini sudah mempunyai Bus Tingkat Wisata.
Desain bus tersebut berwarna merah dan dilengkapi tempat duduk yang
nyaman. Ketinggiannya mencapai 4,5 meter dengan lebar layaknya bus pada
umumnya, yakni sekitar 2,5 meter.
Bus tingkat ini hanya ditawarkan kepada wisatawan yang ingin berkeliling Solo.Lokasi yang bisa dituju, antara lain Keraton Surakarta, Kampung Batik Kauman dan Laweyan, Mangkunegaran, Museum Radya Pustakan dan sejumlah tempat lainnya. Bus tingkat dapat mengantar wisatawan sesuai keinginannya.
Bus tingkat wisata yang bertujuan untuk menarik wisatawan telah dioperasikan mulai 20 Februari 2011. Selain itu, bus tingkat ini juga berfungsi untuk mengenang masa lalu karena dapat diketahui keberadaan bus tingkat masih populer. Dulu bus tingkat adalah bus reguler, kalau bus tingkat kali ini konsepnya berupa bus wisata dengan paket atau carter.
Bus tingkat ini hanya ditawarkan kepada wisatawan yang ingin berkeliling Solo.Lokasi yang bisa dituju, antara lain Keraton Surakarta, Kampung Batik Kauman dan Laweyan, Mangkunegaran, Museum Radya Pustakan dan sejumlah tempat lainnya. Bus tingkat dapat mengantar wisatawan sesuai keinginannya.
Bus tingkat wisata yang bertujuan untuk menarik wisatawan telah dioperasikan mulai 20 Februari 2011. Selain itu, bus tingkat ini juga berfungsi untuk mengenang masa lalu karena dapat diketahui keberadaan bus tingkat masih populer. Dulu bus tingkat adalah bus reguler, kalau bus tingkat kali ini konsepnya berupa bus wisata dengan paket atau carter.
Pembelian Tiket
Calon Penumpang dapat membeli tiket di tempat yang
sudah disediakan secara eceran seharga Rp. 20.000,- untuk berkeliling
kota Solo pulang pergi pada hari Sabtu, Minggu dan hari libur. Untuk
harga sewa (carter) dengan biaya Rp. 800.000,- per 3 jam dengan biaya
overtime Rp. 250.000,- per jam. Penyewa juga dapat meminta bus berhenti
di tempat-tempat tertentu selama lokasinya memungkinkan.
Pemesanan dilakukan di kator Dinas Perhubungan
Komunikasi dan Informatika Kota Surakarta di Jalan Menteri Supeno No. 7
Manahan pada hari dan jam kerja dengan menghubungi Indri 085642005156
atau Sandi 085229790462
Pemesanan dilakukan minimal satu hari sebelum hari
pemberangkatan dan wajib menyerahkan tanda jadi minimal 25 persen dari
harga sewa.
Contact Person :
Indri (085642005156)
Sandi (085229790462)
Indri (085642005156)
Sandi (085229790462)
Rute Bus Tingkat Wisata Werkudara
Bus Tingkat Werkudoro
Rapat Wakil Gubernur DKI Jakarta
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) pada 8
November 2012, yang diunggah secara resmi oleh Pemprov DKI Jakarta di
Youtube pada hari yang sama, sampai tulisan ini dibuat (Minggu, 25
November 2012, pukul 22:20 WIB) telah dilihat sebanyak 1.316.070 kali.
Gebrakan Ahok demi transparansi
pemerintahan Jokowi-Ahok menuju Jakarta Baru itu benar-benar telah
mendapat respon sangat positif dari publik. Bukan hanya terbatas pada
warga DKI Jakarta saja, tetapi lintas batas Jakarta. Bahkan lintas batas
Indonesia. Alias mendapat perhatian pula dari media internasional.
Setidaknya gebrakan tersebut telah diliput oleh TV Al-Jazeera
(www.aljazeera.com) , pada Minggu, 25 November 2012 (hari ini).
Pada Senin, 20 November 2012, siang
(?), di Balaikota DKI Jakarta, seorang wartawan perempuan dari
Al-Jazeera (Step Vaessen) mencegat Ahok yang sedang berjalan menuju
ruang rapat, untuk keperluan wawancara. Tetapi, dengan halus Ahok
menolaknya, karena dia harus segera mulai memimpin rapat yang sudah
terlambat satu jam. Rapat itu, kata, Ahok, akan berlangsung sampai malam
hari. “(Nanti) makan pun sambil kerja,” kata Ahok sambil tertawa kecil.
Wartawan Al-Jazeera itu terlihat kecewa, bertanya dengan bahasa Indonesia-nya yang fasih, “Kalau nggak sekarang, kapan bisa wawancara Bapak?”
Ahok bertanya kepada seorang stafnya yang bernama Tony. Staf itu menjawab, kalau untuk shoot saja sebentar boleh. Ahok pun memutuskan, shoot sebentar saja boleh. Sedangkan pertanyaannya nanti.
Meskipun demikian wartawan itu
sempat mengajukan dua pertanyaan tentang tujuan mengunggah video
rapat-(rapat) itu di Youtube, dan mengenai ada orang yang marah, karena
tidak bisa terima dengan cara Ahok memimpin seperti itu.
Ahok menjawab, tentang pengunggahan
di Youtube itu, dilakukan sesuai dengan perintah Gubernur tentang
transparansi pemerintahan. “Kita ingin masyarakat bisa mengikuti semua.
Ini bukan uang kita, tetapi uang masyarakat. Oleh karena itu masyarakat
berhak untuk tahu, daripada hasil berupa tulisan. Nanti dibilang hanya
pencitraan. Dengan Youtube, masyarakat bisa melihat apa adanya.”
Sedangkan tentang adanya yang
marah, Ahok hanya tersenyum, menjawab singkat sambil berjalan menuju
ruang rapat, “Tidak juga … Mungkin saya terlalu bodoh, sampai tidak tahu
ada yang marah.”
Wawancara singkat dengan dua
pertanyaan tersebut tidak ditayangkan oleh Al-Jazeera secara utuh. Pada
tayangan tersebut Al-Jazeera melaporkan tentang gaya pemerintahan Wakil
Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang disebutkan berbeda dan
belum pernah ada di Indonesia (jadi, bukan hanya “belum pernah ada di
Jakarta”), untuk transparansi dalam menghadapi birokrat yang korup.
Pendapat Joko Anwar, seorang sutradara film, tentang gaya kepimpinan
Ahok itu, dan pernyataan Kepala Dinas PU, Ery (Ery Basworo), yang
menyangkal tentang adanya korupsi di dinas yang dipimpinnya itu.
Al-Jazeera kemudian menayangkan
cuplikan video di Youtube tentang rapat Ahok dengan Dinas PU DKI Jakarta
pada 8 November 2012 itu, pada bagian ketika Ahok meminta Dinas PU
untuk memilih salah satu dari dua pilihan: memotong anggaran yang telah
diajukan oleh Dinas PU itu sebesar 25 persen, ataukah dia membatalkan
semua proyek itu. Kemudian dengan dananya sendiri (pribadi) mengerjakan
proyek-proyek itu. Apabila, ternyata bisa (jauh) lebih murah, maka dia
akan melaporkan persoalan tersebut ke KPK, dan membongkar borok-borok
lama. Terdengar suara dalam bahasa Inggris yang menterjemahkan
pembicaraan Ahok tersebut.
Di sini, saya sertakan dua rekaman video.
Yang pertama, rekaman video dari
Youtube yang diunggah Pemprov DKI Jakarta ketika Ahok dicegat oleh Step
Vaessen dari TV Al-Jazeera, yang meminta Ahok untuk bersedia
diwawancara itu. Dari rekaman ini terlihat percakapan singkat antara
Ahok dengan wartawan tersebut sebagaimana saya tulis di atas.
Berikut video pertama yang dimaksud:
Yang kedua, adalah tayangan video berita tentang gaya kepimpinan Ahok itu di laman Al-Jazeera (www.aljazeera.com). Berikut video kedua yang dimaksud:
Dari kejadian ini sebenarnya, kita
bisa menilai bahwa memang pencitraan seperti yang dituduhkan oleh
segelintir orang itu kepada Ahok, sama sekali tidak terbukti. Apabila,
Ahok mengedepankan pencitraan, tentu dia akan dengan sennag hati
melayani permintaan wawancara Al-Jazeera tersebut.
Orang-orang yang menuduh pencitraan
kepada Ahok itu mungkin karena terlalu latah dengan tuduhan pencitraan
kepada pejabat-pejabat pemerintah Indonesia pada umumnya saat ini,
termasuk dan terutama kepada Presiden SBY. Atau, karena faktor cemburu
kepada Ahok, atau karena faktor terganggunya penghasilan pihaknya dari
hasil korupsi yang selama ini lancar-lancar saja. Dengan gaya memimpin
Ahok seperti ini, terhentilah.
Kita harus bisa membedakan mana
yang pencitraan semata, dan mana yang bukan. Pencitraan terjadi kalau
pejabat itu hanya pintar bicara, pintar pidato, terlihat seolah-olah
perduli kepada rakyat banyak, seperti berkunjung ke pemukiman kumuh,
tetapi itu hanya sesaat saja (terutama di waktu pemilu), kemudian, dalam
prakteknya, dalam proses pemerintahannya menjalankan jabatannya itu
semuanya merupakan kontradiksi. Antara gaya/perilaku/ucapannya dengan
prakteknya saling bertentangan.
Berbeda dengan pejabat yang tanpa
banyak bicara atau pidato dengan gebrakan-gebrakannya yang lain daripada
yang lain, transparan dalam arti yang sebenarnya, langsung pada
sasaran, bekerja dan bekerja demi kepentingan rakyat banyak. Konsisten
dan konsekuen, antara perkataan dengan praktek benar-benar sejalan.
Secara singkat, kita semua bisa merasakannya sendiri. Mana yang palsu
(hanya pencitraan), dan mana yang asli.
Untuk dapat mengubah birokrat yang telanjur terlalu lama rusak, diperlukan suatu shock therapy
dan cara yang keras dan tegas dengan tetap tidak meninggalkan sisi
manusiawinya. Pada konteks ini, itulah yang diterapkan Ahok.
Sutiyoso mengkritik gaya kepimpinan Ahok,
dengan mengatakan, seorang pimpinan tanpa anakbuah tidak akan bisa
berbuat apa-apa. Sehebat apapun dia. Seperti di dalam perang, seorang
panglima sehebat apapun dia, tidak ada artinya tanpa anakbuah. Oleh
karena itu jangan menyakiti mereka, jangan mempermalukan mereka.
Sebagai seorang Jenderal TNI, Sutiyoso
juga harus ingat bahwa di dalam militer, seorang panglima (apalagi
dalam perang) harus memimpin anakbuahnya dengan tingkat disiplin yang
tinggi, tegas dan keras. Bukan dengan lemah-lembut.
Sutiyoso juga harus bisa membedakan
antara mempermalukan dengan patut malu. Mempermalukan itu jika
pimpinannya dengan sengaja membuat malu anakbuahnya di depan umum,
dengan maksud untuk merusak mentalnya. Anak buah itu patut malu kalau
memang dia selama ini kinerjanya buruk, dengan bersikap tegas seperti
yang diperlihatkan Ahok di Youtube, seorang pimpinan yang baik itu
ingin “mencambuk” anak buahnya itu, agar merasa malu dengan kinerjanya
itu, kemudian termotivasi untuk bekerja dengan kinerja yang jauh lebih
baik lagi.
Sikap keras dan tegas bergaya bak seorang
auditor keuangan itu mungkin efeknya tidak akan seoptimal kalau hal itu
tidak dipertontonkan di Youtube, seperti sekarang ini. Dengan gebrakan
ini, Ahok ingin sekali semua anak buahnya terbakar semangatnya, merasa
tertantang untuk bersama-sama dengan Jokowi dan Ahok benar-benar
membangun Jakarta yang baru. Bukan sekadar slogan. Karena semua
gerak-gerik mereka di pemerintahan dipantai publik .***
source:http://sosok.kompasiana.com/2012/11/25/al-zajeera-pun-meliput-gebrakan-ahok-511754.html
Al-Jazeera pun Meliput Gebrakan Ahok
Computerworld -
Windows XP has fewer than 500 days left to live, according to Microsoft and third-party countdown clocks.
Microsoft will end support for XP on April 8, 2014, when it will
issue a final security update for the 11-year-old operating system.
Microsoft offers an XP countdown clock where it's least needed: On Windows 7.
Microsoft provides a countdown gadget for Windows XP's support demise. Ironically, the gadget runs only on Windows 7, the 2009 OS that most customers have adopted after departing XP.
Camwood, a U.K.-based company that specializes in helping businesses migrate their machines to newer operating systems and software, has posted a similar clock on its website. Like Microsoft's gadget, Camwood's also showed 499 days remaining on Saturday.
When Microsoft pulls XP's plug, it will have maintained the operating system for 12 years and five months, or about two-and-a-half years longer than its usual practice. That's also a record, replacing the previous Methuselah, Windows NT, which received 11 years and 5 months of support.
XP's long life was caused in large part by the debacle that was Windows Vista, an oft-delayed operating system that was ultimately rejected by most XP users for being buggy, sluggish or lacking in driver support. Instead, those customers waited for the next iteration, Windows 7, which has been as much a success as Vista was a failure.
According to Web metrics company Net Applications, Windows XP powered 40.7% of the world's desktop and notebook personal computers that went online last month. Windows 7, which passed its ancestor only in August, held a usage share of 44.7% in October.
Meanwhile, Windows Vista, which peaked at 19.1% in October 2009, the same month Windows 7 debuted, now accounts for just 5.8% of all systems.
Microsoft has remained adamant that XP will exit support in April 2014, and has urged customers to upgrade as soon as possible. But countdown clocks notwithstanding, analysts have predicted that XP will be used by millions well after that deadline.
Last month, for instance, Gartner analyst Michael Silver said "there's a good chance" that between 10% and 15% of enterprise PCs will be running XP after April 2014.
Computerworld's forecasts have been overly optimistic about XP's decline. In mid-2011, Computerworld predicted that Windows XP would account for 38% in the third quarter of 2012, three percentage points lower than the eventual number.
Current estimates based on Net Applications' data indicate that come April 2014, Windows XP will be running between 27% and 29% of the world's computers.
"The end of XP support is a potential time bomb," Camwood said last week. "And the clock is ticking."
Windows XP users who want to create a countdown clock on their desktops can install one of several free utilities -- including TimeLeft from Canadian developer NesterSoft -- then set the countdown target at 10 a.m. PT on April 8, 2014. (Microsoft shoots for a 10 a.m. PT release for each month's security updates.)
Gregg Keizer covers Microsoft, security issues, Apple, Web browsers and general technology breaking news for Computerworld. Follow Gregg on Twitter at
See more by Gregg Keizer on Computerworld.com.
Windows XP countdown clock ticks under 500 days
Para ilmuwan kini sedang merancang dan mengujicoba apa yang ke depannya dapat digunakan di ruang kelas; meja belajar multi-touch ala Star Trek, yang dikatakan dapat meningkatkan kemampuan matematika pada anak.Penelitian
selama tiga tahun itu menemukan bahwa dengan menggunakan meja
interaktif dapat mendatangkan keuntungan berupa peningkatan kemampuan skill matematika.:Tujuan kami adalah agar para pelajar dapat lebih baik dalam meningkatkan kemampuan belajar mereka, dengan cara lebih aktif, ketimbang hanya pasif mendengarkan," ujar Liz Burd dari Durham University, yang memimpin studi tersebut.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Learning and Instruction titu mendesain software dan meja yang dapat mengenali beragam beragam sentuhan pada dekstop, dengan menggunakan sistem cahaya infra merah.

Ruang Kelas Masa Depan
ABOUT AUTHOR
Recent Posts
Trending
Categories
- ABC
- ajaib
- akik
- aktual
- aljazeera
- android
- Angrybirds
- antenna
- Apes
- artist
- AusAID
- australia
- Banjir
- Bank
- Batu
- bbm
- berita
- bir
- bisnis
- blokir
- Bola
- bridge
- budaya
- cnn
- computer
- Digital
- download
- edukatif
- Film
- font
- foto
- game
- hacking
- haji
- handphone
- health
- hiburan
- hidup
- hot
- humor
- ibu
- Indonesia
- inspirasi
- inspiratif
- internet
- iPad
- jakarta
- jalanan
- Jokowi
- Jujur
- kartini
- Kemdikbud
- Kereta Api
- kesehatan
- kliping
- Komputer
- Konferensi
- Korupsi
- kreatif
- kriminal
- Kuliner
- Kurikulum
- Kurikulum 2013
- lalu lintas
- lawas
- like
- lucu
- matematika
- media
- Memori
- menteri
- minimarket
- mobil
- motogp
- movie
- mts
- Mudik
- Musik
- Narkoba
- narsis
- nasib
- neraka
- news
- Olah raga
- otomotif
- Pahlawan
- pedati
- pemerintah
- pemuda
- pendidikan
- pesantren
- pesawat
- photo
- picture
- pilkada
- Polantas
- polisi
- pondok
- Presiden
- PSSI
- pulsa
- roaming
- rumah
- sawah
- SBMPTN
- sego kucing
- sejarah
- selular
- seni
- Sepak Bola
- setan
- Sholat
- simbol
- slip
- SMA
- smart
- sms
- snmptn 2013
- Solo
- spam
- streaming
- Subsidi
- surakarta
- surga
- Teknologi
- teroris
- TIK
- tilang
- time
- tip trik
- Tokoh
- tradisional
- Transportasi
- Trending Topic
- tutorial
- TV
- ubuntu
- UN
- video
- virus
- wajan
- Walikota
- wawancara
- windows 8
- wisata
- word
- youtube
Advertisement
Diberdayakan oleh Blogger.
Labels
ABC
ajaib
akik
aktual
aljazeera
android
Angrybirds
antenna
Apes
artist
AusAID
australia
Banjir
Bank
Batu
bbm
berita
bir
bisnis
blokir
Bola
bridge
budaya
cnn
computer
Digital
download
edukatif
facebook
Film
font
foto
game
google
hacking
haji
handphone
health
hiburan
hidup
hot
humor
ibu
Indonesia
inspirasi
inspiratif
internet
iPad
jakarta
jalanan
Jokowi
Jujur
kartini
Kemdikbud
Kereta Api
kesehatan
kliping
Komputer
Konferensi
Korupsi
kreatif
kriminal
Kuliner
Kurikulum
Kurikulum 2013
lalu lintas
lawas
like
lucu
matematika
media
Memori
menteri
minimarket
mobil
motogp
movie
mts
Mudik
Musik
Narkoba
narsis
nasib
neraka
news
Olah raga
otomotif
Pahlawan
pdf
pedati
pemerintah
pemuda
pendidikan
pesantren
pesawat
photo
picture
pilkada
Polantas
polisi
pondok
Presiden
PSSI
pulsa
roaming
rumah
sawah
SBMPTN
sego kucing
sejarah
selular
seni
Sepak Bola
setan
Sholat
simbol
slip
SMA
smart
sms
snmptn 2013
Solo
spam
streaming
Subsidi
surakarta
surga
Teknologi
teroris
TIK
tilang
time
tip trik
Tokoh
tradisional
Transportasi
Trending Topic
tutorial
TV
ubuntu
UN
video
virus
wajan
Walikota
wawancara
windows 8
wisata
word
youtube
Labels List Numbered
- ABC
- ajaib
- akik
- aktual
- aljazeera
- android
- Angrybirds
- antenna
- Apes
- artist
- AusAID
- australia
- Banjir
- Bank
- Batu
- bbm
- berita
- bir
- bisnis
- blokir
- Bola
- bridge
- budaya
- cnn
- computer
- Digital
- download
- edukatif
- Film
- font
- foto
- game
- hacking
- haji
- handphone
- health
- hiburan
- hidup
- hot
- humor
- ibu
- Indonesia
- inspirasi
- inspiratif
- internet
- iPad
- jakarta
- jalanan
- Jokowi
- Jujur
- kartini
- Kemdikbud
- Kereta Api
- kesehatan
- kliping
- Komputer
- Konferensi
- Korupsi
- kreatif
- kriminal
- Kuliner
- Kurikulum
- Kurikulum 2013
- lalu lintas
- lawas
- like
- lucu
- matematika
- media
- Memori
- menteri
- minimarket
- mobil
- motogp
- movie
- mts
- Mudik
- Musik
- Narkoba
- narsis
- nasib
- neraka
- news
- Olah raga
- otomotif
- Pahlawan
- pedati
- pemerintah
- pemuda
- pendidikan
- pesantren
- pesawat
- photo
- picture
- pilkada
- Polantas
- polisi
- pondok
- Presiden
- PSSI
- pulsa
- roaming
- rumah
- sawah
- SBMPTN
- sego kucing
- sejarah
- selular
- seni
- Sepak Bola
- setan
- Sholat
- simbol
- slip
- SMA
- smart
- sms
- snmptn 2013
- Solo
- spam
- streaming
- Subsidi
- surakarta
- surga
- Teknologi
- teroris
- TIK
- tilang
- time
- tip trik
- Tokoh
- tradisional
- Transportasi
- Trending Topic
- tutorial
- TV
- ubuntu
- UN
- video
- virus
- wajan
- Walikota
- wawancara
- windows 8
- wisata
- word
- youtube
Random Posts
Social Share
Recent comments
Most Trending
-
Perubahan kurikulum ternyata tak luput dari perhatian psikolog anak Seto Mulyadi. Dikatakannya perubahan yang terjadi dalam waktu singk...
-
Rapat Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) pada 8 November 2012, yang diunggah sec...
-
Setelah debut tahun 2012 dengan single "Mama" dan "History", EXO menjadi fenomena tersendiri di era boyband K-Pop masa...
-
Anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) menjaga mobil Kepresidenan yang diparkir di kompleks Istana Negara, Jakarta, Senin (20...
















